Dengan harga udang sekitar 9 USD/kg, Indonesia di tahun 2025 telah mengekspor lebih dari 200.000 ton dengan nilai hampir 2 miliar USD. Indonesia adalah pengekspor udang terbesar ke 3 di dunia.
Luas tambak udang di Indonesia melebihi 300.000 Ha, 82 persen adalah tambak tradisional, 15 persen tambak semi intensif, dan 3 persen tambak intensif.
Udang laut Vannamei adalah spesies udang tambak terbanyak di Indonesia karena pertumbuhannya yang tergolong cepat, Vannamei dapat dipanen 2-3 kali dalam satu tahun dengan sistem budidaya intensif, dan hasil panen dapat mencapai 40 ton per hektar
Sebelum masuk ke tambak, udang melewati beberapa fase di hatchery. Fase-fasenya dapat dilihat, dan akan dijelaskan di bawah gambar berikut:

sumber: Food and Agriculture Organization
Telur

sumber: Food and Agriculture Organization
Seekor udang betina dengan berat 30 sampai 35 gram yang kemudian melalui prosedur ablasi tangkai mata, rata rata akan menghasilkan antara 100.000 hingga 140.000 butir telur yang kemudian dipindahkan ke dalam kolam tetas setelah pembuahan oleh seekor udang jantan, dan akan menetas dalam bentuk larva setelah 12-18 jam.
Setelah menetas, larva akan dipindahkan ke bak khusus untuk pemeliharaan larva. Larva tersebut pun akan melalui berbagai fase, yaitu:
Nauplii

sumber: Minapoli
Fase pertama setelah menetas, dimana larva dapat bergerak bebas. Larva di tahap ini belum diberikan pakan karena sistem pencernaannya belum sempurna, dan masih mengandalkan cadangan nutrisi dari telur. Fase ini berlangsung sekitar 2 hari, dan setelah melalui 5 kali pergantian kulit larva akan masuk ke fase berikutnya;
Protozoea

sumber: Minapoli
Protozoea, atau Zoea adalah fase hidup dimana larva mulai membentuk mulut dan dapat memakan pakan eksternal, seperti phytoplankton dan zooplankton. Fase ini berlangsung selama 4 hingga 5 hari yang akan ditandai dengan melalui 3 kali pergantian kulit yang disebut Zoea 1, 2, dan 3 dimana Zoea 3 dapat mulai diberi pakan Epac Black 0 hingga akhir fase berikutnya, yaitu:
Mysis

sumber: Minapoli
Di fase ini larva mulai menyerupai udang dan bisa diberi pakan yang lebih padat seperti Artemia. Fase ini juga akan melalui 3 kali pergantian kulit, mysis 1, 2, dan 3 yang akan berlangsung selama 3 sampai 4 hari. setelah itu lanjut ke fase berikutnya;
PostLarva

sumber: Minapoli
Postlarva, atau pascalarva sudah tampak seperti udang, dan mulai bergerak lurus ke depan. Fase ini berlangsung sekitar 10 hingga 15 hari. Untuk panduan Epac berapa yang diperlukan tahap berapa, dapat melihat gambar dibawah. Pembelian Epac dapat melalui website Aqualife disini

sumber: Inve

sumber: Aqualife.id
Udang Muda

sumber: Food and Agriculture Organization
Di fase ini udang sudah dapat dipanen setelah 3-5 bulan di tangki/tambak intensif dengan berat mencapai 15 hingga 25 gram atau setelah 4-6 bulan di tambak ekstensif/tradisional dengan berat mencapai 11 hingga 20 gram, tetapi belum dapat dibudidayakan karena belum mencapai kematangan reproduksi seperti:
Udang Dewasa

sumber: Food and Agriculture Organization
Dengan berat jantan di atas 20 gram dan betina di atas 28 gram, bila organ reproduksi dan bentuk tubuh dewasa sudah sempurna maka udang telah mencapai kematangan reproduksi dan siap untuk dibudidayakan.
Adapun hal yang perlu diketahui tentang perilaku udang vannamei, seperti sifatnya yang nokturnal/aktif dalam kondisi gelap, menyukai hidup di dasar, dan kemampuan untuk hidup di kisaran salinitas yang lebar, 0,5 hingga 35 ppt.
Mereka memiliki kebiasaan makan yang walaupun lambat, tapi terus-menerus. Mereka mencari makan melewati organ sensor, dan memiliki kecenderungan untuk memangsa sesama jenis/memiliki sifat kanibal
Parameter kualitas air yang baik untuk udang vannamei memiliki nilai pH di antara 7,0-8,3 dengan anjuran nilai pH 8, dan suhu di antara 28-30 derajat celcius.
Referensi




